TIKI TAKA & SPANYOL

Posted: 5 Juli 2012 in Barcelona
Tag:, , ,

Legenda hidup Belanda, Johan Cruyff menyebut akar permainan Spanyol saat ini berasal dari tiki-taka Barcelona. Cruyff menambahkan jika kehadiran gelandang-gelandang Barca di timnas semakin mempermudah aplikasi dari gaya permainan ini. “Sebelumnya Spanyol tidak memiliki gaya permainan sendiri. Tetapi kehadiran Xavi dan pemain lainnya yang gaya permainan serupa membentuk gaya permainan Spanyol. Gaya yang mengakar dari konsep dan filosofi Barcelona, yang konstan menjaga aliran bola,” ucap Cruyff kepada Marca.

Tak ketinggalan, Cruyff juga memberikan komentar kepada revolusi permainan timnas Italia. Disebutnya jika Azzurri kini bermain lebih kreatif dengan meninggalkan gaya permainan catenaccio yang sebelumnya dipertahankan dalam jangka waktu lama. “Spanyol dan Italia kini bermain lebih kreatif. Filosofi permainan ini sudah diterapkan beberapa tahun lalu di Spanyol, tetapi kini Italia berhasil mengadopsinya,” imbuh Cruyff.

“Italia sebelumnya terbiasa bermain dengan gaya catenaccio, itu yang diinginkan oleh pelatih mereka. Italia bermain dengan gaya itu dalam jangka waktu lama, dan pelatih mereka tidak memberikan kesempatan kepada pemain dengan gaya permainan berbeda,” pungkas Cruyff.

Sebelumnya Spanyol mendapat kritikan luar karena permainan ‘tiki-taka’ mereka dianggap membosankan. Namun dengan gaya permainan yang sama terbukti tim Matador mampu mencatatkan sejarah baru dengan meraih tiga trofi gelar di turnamen besar secara beruntun dalam kurun waktu 4 tahun.

KEAMPUHAN TIKI TAKA

Pertahanan Italia menjadi sedemikian menganga dan dihujani empat gol Spanyol yang tak berbalas. Spanyol mentahbiskan diri menjadi juara Eropa berturut untuk pertama kali. Spanyol menenggelamkan Italia, yang kegembiraannya terlalu membuncah setelah berhasil menerkam Timnas Jerman 2-1.

Kegembiraan sempat meluap dalam diri Balotelli, karena pemain berkulit hitam ini bisa menjawab ejekan berbau rasialis dengan selebrasi membuka kaosnya dan seolah mengatakan “inilah aku”. Pada malam Italia menewaskan Jerman itu, Balotelli merasa telah bermain dengan baik dan menyarangkan dua gol. Dia yakin akan bermain sangat baik ketika berhadapan dengan Spanyol di final.

Sayangnya Balotelli harus diam seribu basa meratapi kekalahan Italia dan harus menyaksikan Spanyol yang bersuka ria merayakan gelar campeone Eropa dua kali berturut-turut dan juara Piala Dunia 2010. Dalam tiga tahun terakhir tiki-taka Spanyol menghempaskan timnas mana pun yang mencoba kedigdayaannya.

Pesawat yang membawa timnas Spanyol tiba di Bandara Barajas Madrid dari Kiev sebelum pukul 16.00 sore kemarin. Iker Casilas harus menempuh perjalanan selama satu jam menuju Istana Zarzuela di Madrid.

Raja Spanyol Juan Carlos menyambut tim asuhan pelatih Vicente del Bosque yang berhasil membawa timnya meraih tiga gelar dalam dua tahun. Raja menyalami seluruh tim atas keberhasilan luar biasa. Kapten Iker Casillas menghadiahi raja dengan sebuah kemeja kenang-kenangan yang bagus.

Timnas kemudian naik bus beratap terbuka-melintasi jalan-jalan menunju Plas Cibeles sembari menebar senyum kepada warga Madrid. Bus merambat pelan karena warga Madrid demikian gembira atas pencapaian La Fuera Roja. Bahkan petugas pemadam kebakaran, menyemprotkan air kepada warga agar tak terlalu kepanasan.

Bus itu akhirnya mencapai Plaza Cibeles, tempat ribuan penggemar menunggu. Tepuk sorak warga Madrid membahana, mana kala seorang pemain Spanyol menuruni bus. Kiper cadangan Pepe Reina, mengambil mikrofon dan berpidato mewakili teman-temannya.

Dalam pidatonya Reina menyebutkan upaya timnya untuk terus membantu menjaga semangat tim tetap tinggi. Pidatonya demikian elegan dan warga Madrid yang berkumpul saat itu menyukai pidatonya. Lantas Reina memperkenalkan seluruh penggawa timnas sembari membagi-bagikan minuman kepada para penggemar.

Fans di seluruh Spanyol memulai perayaan sejak saat peluit akhir ditiup pada Minggu (3/7/2012) malam atau Senin (3/7/2012) dinihari WIB di Kiev. Pendukung tumpah ke jalan, berkeliling kota, berbagi sukacita atas prestasi bersejarah Spanyol. Selebrasi kemenangan Spanyol tidak hanya dilakukan di Plaza Cibeles, tetapi juga kota-kota lain di seluruh negeri.

Keberhasilan Spanyol di bawah del Bosque menerapkan tiki-taka yang menjadi mazhab sepakbola Barcelona daripada Madrid. Del Bosque seolah mengakui kejituan Josep “Pep” Guardiola yang dengan ketat menerapkan filosofi bermain bola yang diperkenalkan maestro total footbal timnas Belanda Rinus Michel pada masa Johan Cruijff bermain. Cruijff-lah yang membina Guardiola memahami keampuhan tiki-taka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s