Mengamati Perkembangan Musik Indonesia

Posted: 5 Mei 2012 in just me

sekarang saya semakin tertarik untuk mengamati perkembangan music terutama perkembangan music di indonesia.disini saya mencoba melihatnya dengan 2 sisi.

Pada majalah Rolling Stone Indonesia edisi terakhir tahun 2007, memberikan judul 150 album terbaik Indonesia. Sejenak judul itu merefleksikan album album apa saja yang menurut survey dan interpretasi ( mereka saja ? ) tentang album album yang mempunyai kualitas diatas rata rata dan telah member pengaruh terhadap perkembangan music Indonesia hingga sekarang. Lalu, pada hampir dihalaman terakhir ada rubric yang cukup membuat kita menjadi terpingkal. Betapa tidak, halam tersebut berisi tentang tiga album terburuk Indonesia tahun 2007. Isinya antara lain, album OST BBB ( bukan bintang biasa ), Kangen band ( Tentang aku,engkau dan dia) dan terakhir album The Rock ( Mister Master Ahmad Dhani).

Setelah membaca artikel tersebut, saya bingung dan bertanya : “apakah album mereka sampai segitu jeleknya sampai diberikan predikat tersebut? “. Tapi bagi saya butuh seribu alasan dan seribu bukti untuk memverifikasi judgement terburuk terhadap tiga karya music tersebut. Dalam pikiran saya memang ada standart baku terhadap karya music ??? sehingga seorang pelaku resensi album dengan seenaknya memberikan label tersebut?? Tidak sesuperficial itu juga sih.., pastinya mereka mempunyai segudang alasan dan pastinya segudang bukti.

Sejak saat itu saya semakin tertarik untuk mengobservasi lebih dalam lagi tentang progres music Indonesia kira kira satu setengah tahun ini. Untuk tiga album diatas , saya lebih perhatikan lagi komposisi musiknya dan mulai membaca artikel tentang mereka. Tentang kangen band , saya jadi tertatik dengan mereka . coba anda bayangkan, hampir semua orang membicarakan memperolok mereka, mereka bilang band kampungan, musiknya menye menye lah, tidak berkualitas lah, dan segudang hujatan lainnya kepada mereka.

Tapi apa yang terjadi??? Mereka semakin popular saja. Di TV aja, seperti dalam acara acara music atauoun non music yang menghadirkan band , nama mereka semakin “ada” saja. Bahkan  beberapa bulan yang lalu, Metro TV dalam acara Kick Andy, acara tersebut dengan sengaja mengangkat kisah perjalanan kesuksesan karir mereka yang dimulai dari bawah. Alhasil, acara tersebut menuai protes yang tidak sedikit terhadap saluran televise swasta tersebut. Bahkan dalam album perdana duo T2 ( salah satu personilnya tiwi AFI), dengan hits pertama mereka yang berjudul “ lelaki cadangan “ itu ternyata karangan gitaris Kangen band. Setelah mendapatkan dan mendengarkan lagu tersebut, saya justru kaget karena komposisi dan konfigurasi Chordnya hampir mirip dengan lagu lagu Melly Goeslaw ( awalnya sebelum notice kalau lagu itu karangan dia, saya menyangka lagu tersebut karangan Melly )

Agar tidak bias, saya sengaja mendengarkan satu album mereka, alhasil , kalau boleh member binatng satu sampai lima, maka saya akan memberi satu setengah. Secara komposisi terlihat biasa, walaupun ada beberapa yang balada, dan ternyata juga sudah menjadi hits di beberapa media. Tapi logikanya, apakah pantas kita melabel mereka sebagai pendatang dengan album terburuk dengan menyalahkan komposisi mereka yang mengimpresikan ke-menye-menye-an , sementara hampir semua band yang berkarya akhir akhir ini juga menampilkan hal yang sama?? Kalau begitu kita juga menyalahkan influences mereka yang sebelum sebelumnya donk???? Jujur saja saya kurang sreg dengan perkembangan music belakangan ini. Karena tuntutan industry music yang sangat mementingkan komersialitas dan mementingkan  komformitasm justru membuat mereka itu menjadi (sengaja) stagnant dalam memproduksi ide ide yang kreatif. Mereka juga masih terpaku dan berjalan di alur yang aman. Apa takut di tinggal penggemar atau ditinggal label rekaman yang menfasilitasi mereka?? Apa kita juga perlu mendidik penggemar yang notabene juga pelaku industry music dengan mengajarkan bahwa suatu perubahan dan kreativitas adalah lebih baik?? Absurd juga bukan??

Lalu tentang album OST Bukan Bintang Biasa tidak kalah hujatan. Banyak pengamat music menilai bahwa ini adalah degenerasi seorang brilian Melly. Melly yang selama ini menghasilkan album album yang terbilang sukses samun bagi saya cita rasanya sama, hanya packaging-nya yang berbeda. Coba anda perhatikan , sejak album OST Ada Apa Dengan Cinta , dan dilanjutkan dengan OST Eiffel I’m In love hingga OST BBB ini, Melly suka sekali bereksperimen dengan orang orang yang terbilang baru di industry music Indonesia.

Memang tidak salah kita bereksperimen dengan suatu yang baru, tapi ketika dihadapkan dengan album OST BBB ini, tampaknya Melly menuai kritikan dan protes karena telah salah dengan mengajak artis artis pendukung OST ini kepada orang orang yang katanya “tidak bisa nyanyi sama sekali”. Alhasil kualitas album (kecuali music dari instrumen ) terlihat sangat standart dan terkesan dipaksakan. Saya hanya bisa tersenyum karena bagaimanapun juga Melly pasti punya pertimbangan lain tentang ini dan juga seperti anekdot yang sering kita dengar “ penonton sangat pandai sekali menilai “.

Satu lagi album terburuk tahun 2007, adalah album The Rock. Dalam majalah Rolling Stone Indonesia dan majalah Hai, tidak sedikit setiap tulisan yang berkaitan dengan Ahmad Dhani dan pastinya dengan The Rock-nya ini disinggung sunggung sebagai antiklimaks dari perjalanan dan kualitas music dari seorang Ahmad Dhani. Terkebih ketika disinggung single pertamanya yang berjudul “Munajat Cinta” itu.

Ada yang berpendapat Dhani sekarang sudah tidak mampu lagi menciptakan karya karya fenomenal seperti yang dilakukannya pada album Dewa “Pandawa Lima” dan Ahmad Band atau seperti dia membantu Reza Artamevia dulu. Tidak hanya itu, dalam album The rock tersebut hanya memuat tiga lagu baru saja. Yang lain,hanyalah repackaging dari masterpieces dhani dulu. Hanya arrasemennya saja yang berbeda . bahkan yang lebih kontrasnya band yang bernama The Rock ini seperti akan memainkan music music rock. Tapi yang terjadi terdapat dua lagu yang bernuansa swing jazz. Paradoks ??????  untungnya reporter Hai segera menemui serta mewawancarai Dhani di tengah kesibukannya dan terangkum dalam tulisan di majalah Hai. Apa advokasi dan argument seorang Dhani?? Bagi dia, ketika membuat lagu Munajat Cinta tersebut, dia terinspirasi dari Matta band, dimana dia berniat membuat lagu yang mempunyai melodi yang easy to catch, dan hal itu dilakukannya. Lalu ketika ditanyai tentang lagu yang bernuansa jazz swing , Dhani menjawab bahwa dia sudah lama kebelet ingin membuat album swing ( terinspirasi dari OST rumah ketujuh nya Indra Lesmana yang sangat kental dengan Big Band jazz dan Swing jazz nya?? ) . jadi dua lagu tersebut sengaja dipasang juga dengan intensi agar para Indonesia music listener , dapat familiar dengan music swing.

Ya…itu terserah dia. Tidak bisa disalahkan juga. Menurut saya Dhani adalah seorang yang sangat cerdas di music. Talenta dan kapabilitas dia dalam mengarang dan mengarrasemen music yang dia miliki adalah sesuatu yang tidak semua orang bisa miliki. Para musisi juga berkarya dalam industry music mau tak mau harus bisa mengikuti arus pasar. Bisa juga dikatakan kesuksesan seorang artis music ditemtukan sejauh mana karya mereka diterima oleh pasar.

Dalam tulisan ini saya juga ingin menyampaikan pesan bahwa seseorang berhak menilai sesuatu dengan sudut pandang dia sendiri. Tapi ingat juga ,bahwa ternyata hal yang kita pandang itu mempunyai persepsi yang berbeda tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Walaupun mempunyai sudut pandang yang berbeda, bukankah kita hendaknya juga tetap menghargai apa yang dihasilkan orang lain?. Terlepas suka atau tidak. Lagipula cara menghargai sesuatu kan tidak harus dengan memiliki dan memujinya , tapi sekedar sebuah senyuman dan beberapa kali tepukan tangan saya rasa itu sudah cukup. Karena anda belum tentu seperti mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s